Senin, 28 Oktober 2024

Alasan Perusahaan Pecat Pekerja Gen Z, Salah Satunya Kurang Motivasi

  


Generasi Z yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012 mulai memasuki dunia kerja. Namun belakangan ini, banyak berita tentang pemecatan pekerja Gen Z bermunculan.  Melansir Intelligent, ada beberapa alasan mengapa banyak perusahaan memecat pekerja gen Z. 

Karakteristik mereka yang unik membawa perubahan signifikan dalam dinamika tempat kerja.  Berikut adalah 8 karakteristik gen Z di tempat kerja sebagaimana dilansir dari Stanford Report: 

1. Gen Z Mengharapkan Perubahan 

Tumbuh di era digital yang ditandai dengan perubahan teknologi yang cepat, Gen Z mengharapkan adanya perubahan yang konstan. 

Mereka ingin metode kerja yang sejalan dengan perkembangan zaman dan tidak takut untuk mengeksplorasi cara-cara baru dalam menyelesaikan tugas. Mereka mengharapkan perubahan, sesuatu yang fleksibel, dan cara kerja yang lebih efektif. 

2. Gen Z Bersifat Pragmatis  

Gen Z cenderung pragmatis, lebih memilih menyelesaikan tugas dengan cepat dan efisien sesuai cara mereka sendiri. Mereka tidak selalu mengikuti alur kerja tradisional dan seringkali berpikir kreatif untuk mencapai hasil yang lebih baik. 

3. Ingin Membuat Perbedaan   

Gen Z tidak hanya mengharapkan perubahan, tetapi juga bertekad untuk membuat perbedaan. Mereka ingin pekerjaan mereka berdampak positif bagi dunia, berupaya menjadi agen perubahan di tengah isu-isu kompleks seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan rasial.

4. Menghargai Kerja Sama Tim 

Generasi Z tumbuh di era digital yang mendorong kolaborasi, sehingga mereka sangat menghargai interaksi dan koneksi dengan orang lain. Mereka memiliki semangat untuk bekerja sama dalam tim dan percaya bahwa kolaborasi membawa hasil yang lebih baik. 

5. Menginginkan Pemimpin 

Berdasarkan Konsensus Gen Z kurang menghargai struktur hierarkis tradisional. Mereka lebih memilih pemimpin yang berbasis konsensus, seseorang yang memiliki keahlian spesifik dan mampu mengedepankan kelompok. Mereka menghargai partisipasi dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

6. Peduli Terhadap Kesehatan Mental 

Gen Z sangat memperhatikan kesehatan mental. Mereka menginginkan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, menyadari bahwa hidup lebih dari sekadar bekerja. Kesejahteraan mental menjadi prioritas bagi mereka.

7. Berpikir Berbeda tentang Loyalitas 

Dipengaruhi oleh pengalaman krisis ekonomi dan PHK massal selama pandemi, Gen Z tidak merasa harus terlalu loyal pada perusahaan. Mereka tahu bahwa posisi bisa hilang kapan saja, sehingga lebih terbuka untuk berpindah pekerjaan jika ada tawaran yang lebih baik. Jiwa wirausaha mereka juga semakin berkembang. 

8. Mencari Keaslian 

 Gen Z adalah generasi yang menghargai keaslian. Mereka mengutamakan kejujuran dan keterbukaan dalam membangun kepercayaan. Bagi mereka, kata-kata harus sejalan dengan tindakan, dan saling terbuka adalah kunci untuk menyelesaikan masalah.

Menurut survei yang dilakukan oleh Intelligent.com pada Agustus 2024 yang melibatkan sebanyak 966 manajer perekrutan, 6 dari 10 perusahaan memecat lulusan perguruan tinggi yang baru mereka rekrut tahun ini. 

Adapun, 1 dari 6 manajer perekrutan ragu untuk merekrut lulusan baru. Para manajer juga mengatakan, lulusan perguruan tinggi baru-baru ini tidak siap untuk memasuki dunia kerja, tidak dapat menangani beban kerja, dan tidak profesional. 

Alasan perusahaan memecat pekerja gen Z



Mengapa banyak perusahaan memecat karyawan Gen Z?


Menurut survei yang sama, 6 dari 10 perusahaan yang memecat lulusan baru memiliki beberapa alasan pemecatan sebagai berikut: 

Kurang motivasi atau inisiatif: 50%

Kurang profesional: 46% 

Keterampilan organisasi yang buruk: 42% 

Keterampilan komunikasi yang buruk: 39% 

Kesulitan menerima feedback: 38% 

Kurangnya pengalaman kerja yang relevan: 38% 

Keterampilan pemecahan masalah yang buruk: 34% 

Keterampilan teknis yang tidak memadai: 32% 

Ketidakcocokan budaya: 31% 

Kesulitan bekerja dalam tim: 30%

Banyak lulusan perguruan tinggi baru-baru ini mungkin kesulitan memasuki dunia kerja untuk pertama kalinya, karena bisa jadi sangat berbeda dari apa yang biasa mereka alami selama menempuh pendidikan. "Mereka sering kali tidak siap menghadapi lingkungan yang kurang terstruktur, dinamika budaya tempat kerja, dan ekspektasi pekerjaan yang mandiri," ujar penasihat utama pengembangan karier dan pendidikan Intelligent Huy Nguyen pada Intelligent

"Meskipun mereka mungkin memiliki beberapa pengetahuan teoritis dari perguruan tinggi, mereka sering kali tidak memiliki pengalaman praktis di dunia nyata dan keterampilan nonteknis yang dibutuhkan untuk berhasil di lingkungan kerja," lanjutnya.  

Adapun, sikap lulusan baru di tempat kerja yang membuat manajer perekrutan merasa khawatir adalah:

 65% merasa berhak 

63% merasa mereka mudah tersinggung 

55% kurang memiliki etos kerja 

54% tidak menanggapi feedback dengan baik 

53% tidak siap untuk dunia kerja 

52% keterampilan komunikasi yang buruk 

51% kurangnya motivasi  

50% memerlukan lebih banyak biaya untuk pelatihan 

26% kurangnya keterampilan teknologi 

20% sering terlambat mulai bekerja 

19% sering berpakaian secara tidak profesional 

19% sering menggunakan bahasa yang tidak pantas 

18% sering terlambat menghadiri rapat 

17% terlalu sulit diatur 

15% sering terlambat menyerahkan tugas 

Hal-hal tersebut kemudian membuat para manajer perekrutan ragu untuk mempekerjakan lulusan perguruan tinggi baru-baru ini untuk tahun 2025.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Alasan Perusahaan Pecat Pekerja Gen Z, Salah Satunya Kurang Motivasi

   Generasi Z yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012 mulai memasuki dunia kerja. Namun belakangan ini, banyak berita tentang pemecatan peker...